Malam semakin larut, sambil saya harus mendengarkan lagu Amayadori dari Itsuwa Mayumi (五輪真弓), badan masih terasa pegel dan “lungkrah” karena seharian saya harus keliling kota Pekanbaru, dan harus memanas-manasi guru dan siswa SMPM 2 Simpang Tiga Kota Pekanbaru, yang disingkat sebagai SMP Mustika. Sorenya saya diajak Ustadz Defi Warman Principal SMAM 1 Kota Pekanbaru untuk mampir di Kedai Duren di Jalan Sudirman, dan kebetulan saat itu duren-duren dari Sibolga yang baru saja diturunkan dari truk. Saya bersyukur, dan segala puji untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tulisan kecil ini akan diterbitkan oleh Tangan Emas Publisher, yaitu penerbit dari kampung yang pernah sukses menerbitkan buku Semangat Tanpa Batas, yang sampai saat ini buku itu masih laris manis. Pendek kata, harus banyak syukur yang harus saya nikmati agar memompa semangat untuk semakin produktif dalam mengungkap segala variable keseharian dalam bentuk tulisan.
Pagi hari benar, sebelum ke SMP Mustika, saya harus mampir di SMKM 1 Kota Pekanbaru untuk dijamu sarapan pagi sambil berdiskusi masalah mikro, dan kepala sekolahnya, Ustadz Algafar akan memperlihatkan “guest housenya” yang baru yang akan segera disulap untuk menjadi hotel. Saat sarapan pagi itu, saya memang harus berbicara masalah yang sangat mikro dari mulai jenis-jenis keramik, aluminium, peralatan kloset, dan lain-lain, dan semua yang saya keluarkan dicatat semua oleh Wakil Kepala Sekolah bidang sarana untuk segera diotak-atik untuk dapat direalisasi. Saya tetap bersemangat, walaupun sehari sebelumnya saya harus gagal sampai ke Bukittinggi melewati Kelok Sembilan karena ada banjir di sebelah barat Kota Bangkinang. Sebetulnya acara inti saya di Riau adalah mengisi “inspirational spirit” di Musyawarah Wilayah (Musywil) Muhammadiyah Propinsi Riau, tetapi ditambahi acara-acara selipan di beberapa tempat yang saya harus memutar otak untuk menata file-file untuk audiens yang berbeda-beda. Ini yang membuat saya seperti “stricker” yang harus siap diumpani bola setiap saat dengan model sontekan bola operan jenis apapun.
Saya harus menyampaikan rasa terima kasih kepada Ustadz Muhammad Zaini (Direktur Tangan Emas Publisher) di Pasuruan, ustadz Ajuslan Kerubun di Probolinggo, mas Farid Suryanto di Tegal yang ikut sibuk menyiapkan kemasan naskah ini. Buku ini sangat sederhana, semoga dapat menginspirasi para pembaca dan menambah semangat untuk selalu survival.
Saya sengaja menyelesaian buku ini di tanah Sumatera, untuk menggali rasa yang berbeda dari biasanya. Saya berusaha sekuat mungkin untuk mengisi berbagai kekuatan daerah di berbagai belahan tanah air ini untuk melengkapi tulisan saya di buku-buku saya yang sudah terbit ataupun yang akan terbit, termasuk buku ini, sehingga saya sangat berterima kasih ke isteri saya Ratna Setyawati yang selalu menemani saya untuk membantu saya dalam menulis peristiwa-peristiwa yang terjadi selama saya mengelilingi Nusantara.
Segera dapatkan buku ini!!
Imam Robandi dilahirkan di daerah pegunungan dari keluarga dan lingkungan tradisi kakek-neneknya yang Nahdlatul Ulama di Desa Donorojo, Sempor Utara di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Dia adalah cucu yang paling disayang oleh kakek dan neneknya yang sangat tradisional, untuk menyiapkan Imam Robandi muda yang tangguh.
Lahir dan lingkungan pegunungan yang dalam kondisi serba sulit telah termanfaatkan oleh Imam Robandi kecil sebagai kurikulum hidup yang sangat contextual dan thematical. Di pegunungan ini, Imam Robandi diajari mengaji dan memahami kehidupan oleh kakek dan neneknya melalui pendekatan alam. Masa kecilnya berpindah dari gunung ke Kota Gombong, dan hidup di lingkungan Muhammadiyah, dan saat bersekolah di Muhammadiyah penulis mulai berkembang sepagai Pelajar Muhammadiyah yang sangat kreatif di usianya, dan berprestasi cemerlang untuk skala kota kecil itu, dan juga di kampungnya dia menjadi remaja mushala yang sangat gigih dalam mencerahkan teman-teman sebayanya. Dia bersama teman-teman sebayanya membangun jamaah pengajian kecil-kecilan di kampung, dan di saat masuk SMA penulis ditinggal bapaknya, dan dia menjadi anak yatim.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Kota Gombong, penulis melakukan pengembaraan selama 2 tahun di Kota Yogyakarta dan berguru ke banyak tokoh (Amien Rais, A Azhar Basyir, Sofyan Effendi, Sahirul Alim, dan AR Fachruddin) dan juga dia banyak berguru kepada para budayawan Jogja. Di Yogyakarta, penulis sering mengikuti kajian-kajian yang diselenggarakan oleh para aktivis Muhammadiyah dan juga ikut pengajian Jamaah Shalahuddin yang diselenggarakan oleh mahasiswa UGM. Imam Robandi muda sangat menggemari tulisan-tulisan Buya Hamka, Majalah Panji Masyarakat, Majalah Al Muslimun, dan penulis sangat senang membaca pemikiran-pemikiran pembaharuan Ibnu Taimiyah, Hasan Albana, Rasyid Ridlo, Revolusi Perancis, dan Restorasi Meiji. Bukan hanya sebagai seorang Muhammadiyah yang kental, penulis juga sangat mewarisi karakter bapaknya yang lulusan sekolah Belanda, sehingga saat masih di sekolah dasar hampir setiap hari Imam Robandi kecil setiap hari disuruh mendengarkan siaran Radio BBC, Suara Amerika, Radio Australia, dan NHK melalui saluran gelombang pendek SW (Short Wave) walaupun sering tidak tahu artinya.
Setelah dari Yogya, penulis meneruskan pengembaraan ke Surabaya dan berguru ke Kyai Djuraid Mahfud dan Kyai Bey Arifin sambil kuliah di ITS mengambil bidang yang sangat sulit untuk lulus saat itu, yaitu Teknik Elektro, dengan spesialis arus kuat (power engineering) sampai memperoleh gelar insinyur dan setelah itu penulis pindah ke Kota Bandung untuk mengambil bidang yang sama di ITB sampai memperoleh gelar master. Penulis bernasib baik dalam persaingannya untuk meraih beasiswa dari Pemerintah Jepang (Monbukagakushou, 文部科学省) untuk mengambil gelar Doctor of Engineering (Dr. Eng, 博士工学) dari Department of Electrical and Electronics Engineering (電気電子工学科), Tottori University (鳥取大学), Japan. Di Kota Hiroshima penulis pernah menerima penghargaan (gold medal) dari Institut Insinyur Elektro Jepang (IEEJ) sebagai peneliti terbaik di Jepang di tahun 1999. Selama menempuh S3, penulis telah menghasilkan lebih dari 24 publikasi ilmiah internasional. Disamping bidang keelektroan, penulis pernah memperoleh penghargaan dalam seni pedalangan dari Pusat Kesenian Jawa yang berpusat di Surakarta di tahun 1998, dan saat menjadi mahasiswa asing penulis di tahun 2000 pernah terpilih menjadi President of Tottori Moslem Society yang anggotanya adalah masyarakat moslem yang berasal lebih dari 45 negara yang bertempat-tinggal di Prefektur Tottori (鳥取県).
Secara karier, penulis juga termasuk bernasib mujur, disamping diusulkan menjadi guru besar di usia sangat muda, penulis juga sudah berkali-kali menjadi guru besar tamu (Visiting Professor) di universitas-universitas di Jepang. Saat ini, di kampusnya, penulis adalah seorang peneliti yang produktif dengan ratusan karya ilmiahnya yang diterbitkan dalam bentuk buku, prototype, proceeding dan journal di tingkat nasional dan internasional, dan setiap tahun penulis memenangkan proposal hibah penelitian nasional, membangun international networking, menjadi keynote speaker di dalam dan luar negeri, dan menjalin joint research dengan perguruan tinggi di Jepang. Sebagian karyanya yang pernah menggetarkan masyarakat tanah air belum lama ini adalah bersama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang telah melahirkan mobil listrik bertenaga matahari Suryawangsa (bersama SMKM 7 Gondanglegi, Malang) dan Giwangkara (bersama SMKM 1 Haurgeulis, Indramayu).
Di lingkup pengembangan pendidikan, penulis adalah seorang tokoh langka yang sangat fenomenal dengan gerakan-gerakannya yang sangat cepat dan inspiratif. Hampir sebagian besar event-event pencerahan skala besar (conference, symposium, seminar, olimpiade, penghargaan, award, festival) adalah terinspirasi dari injeksi inovasi Robandian yang telah menggetarkan sendi-sendi persekolahan di tanah air. Ide-ide barunya yang sangat cemerlang dan terkadang sangat sulit untuk dinalar telah membuat sekolah-sekolah, amal-amal usaha, dan gerakan dakwah menjadi terkontaminasi untuk ingin selalu berlari serba cepat dan produktif.
Penulis adalah pioneer evolusi mindset yang mengirimkan para kepala sekolah dan guru ke luar negeri sejak tahun 2004. Penguasaannya yang sangat kuat dan tajam terhadap integrated concept antara school building, strategic curriculum, dan recent technology telah menjadikan penulis sebagai inspirator dan pendesain sekolah-sekolah modern. Banyak gedung-gedung sekolah-sekolah dengan konsep postmodern minimalist yang berbasis pada nilai-nilai fungsi objektif menyebar kebaikan yang meliputi kerapian, keindahan, kefungsian, menyehatkan, diferensiasi, dan brand. Kepedulian dan kemampuannya di bidang ini telah membuatnya menjadi orang yang sangat langka di negeri ini.
Memang memahami injeksi inovasi Robandian yang serba cepat dan dinamik adalah tidak mudah, karena hanya ada tiga pilihan, yaitu tidak paham, tertinggal, atau mengikuti. Yang tidak paham akan selalu waspada dan curiga, yang tertinggal akan selalu menabur ribuan alasan, dan yang dapat menyesuaikan dengan kecepatan akan merasakan dengan rasa bangga untuk mereposisi diri, dan mengapresiasi dengan rasa syukur untuk terus berkarya.
Imam Robandi adalah seorang insinyur, seorang seniman, seorang guru, seorang yang selalu mengajak siapa saja untuk berkarya maksimal, membangunkan siapa saja yang masih tidur, menarik siapa saja yang masih belum berlari, seorang yang tidak pernah bosan keluar masuk kampung, seorang yang selalu dinanti kehadirannya, dan dia selalu ditunggu-tunggu karya terbarunya yang selalu futuristik, mengagetkan, dan membumi. Dia adalah bukan seorang yang ahli berceramah di atas panggung, tetapi dia adalah seorang guru yang sangat praktis, yang selalu mengajari para murid-muridnya untuk menyentuh titik keberhasilan.